MAKALAH
CONTEXTUAL
TEACHING AND LEARNING
(CTL)
Diajukan
Untuk Memenuhi
Tugas
Mata Kuliah Strategi Pembelajaran
Dosen
Pembimbing :
Ika
Dian Rahmawati, M. Pd
Oleh
: Kelompok 3
1.
Binti
Muthoharotuz Zahro’ (1260221)
2.
Binti
Chusnul Khotimah (1260224)
UNIVERSITAS
HASYIM ASY’ARI
FAKULTAS
TARBIYAH
PENDIDIKAN
GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
TEBUIRENG
- JOMBANG
Oktober
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Anak
belajar lebih baik melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan yang
alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang
dipelajarinya. Pembelajaran yang beroreantasi target penguasan materi terbukti
berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam
membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah
yang terjadi di sekolah-sekolah.
Pembelajaran
kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan strategi belajar
yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Oleh karena itu, proses pembelajaran
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Strategi
pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam makalah ini, akan dibahas
lebih rinci tentang pembelajaran kontekstual (CTL).
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang, rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut:
a.
Apa pengertian kontekstual?
b.
Apa saja karakteristik CTL?
c.
Apa saja komponen CTL?
d.
Apa saja pendekatan-pendekatan
dalam CTL?
e.
Apa kelebihan dan kekurangan CTL?
1.3
Tujuan Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah, tujuan makalah ini sebagai berikut:
a.
Untuk mengetahui pengertian CTL.
b.
Untuk mengetahui karakteristik CTL.
c.
Untuk mengetahui komponen CTL.
d.
Untuk mengetahui
pendekatan-pendekatan dalam CTL.
e.
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan
CTL.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian CTL
Kata kontekstual (contextual)
berasal dari kata context yang berarti “hubungan, konteks, suasana dan
keadaan (konteks)”. Menurut Elaine B. Johnson (Rusman,
2010: 187) pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak
untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut, Elaine mengatakan
bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok
dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan
konteks dari kehidupan sehari-hari
siswa.
Menurut Nurhadi (Rusman, 2010: 189),
pembelajaran kontekstual (CTL) merupakan konsep belajar yang dapat membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat.
Sedangkan Johnson mengatakan bahwa
CTL memungkinkan siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan konteks
kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna. CTL memperluas konteks pribadi
siswa lebih lanjut melalui pemberian pengalaman segar yang akan merangsang otak
guna menjalin hubungan baru untuk menemukan makna yang baru.
Sementara itu, Howey R, Keneth (Rusman,
2010: 190) mendefinisikan CTL sebagai pembelajaran yang memungkinkan terjadinya
proses belajar di mana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya
dalam berbagai konteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan masalah yang
bersifat simulatif ataupun nyata, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Berdasarkan beberapa definisi di
atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu
pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh
untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan
nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
2.2 Karakteristik CTL
Proses
pembelajaran dengan menggunakan Contextual Teaching and Learning harus
mempertimbangkan karakteristik-kakteristik berikut ini:
a.
Kerjasama.
b.
Saling menunjang.
c.
Menyenangkan dan tidak membosankan.
d.
Belajar dengan bergairah.
e.
Pembelajaran terintegrasi.
f.
Menggunakan berbagai sumber.
g.
Siswa aktif.
h.
Sharing dengan teman.
i.
Siswa kritis guru kreatif.
j.
Dinding dan lorong-lorong penuh
dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, dan lain-lain.
k.
Laporan kepada orang tua bukan hanya
rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan
lain-lain. (Depdiknas dalam Rusman 2010: 198).
Sedangkan menurut Sanjaya (2010:
256) mengemukakan bahwa terdapat lima karakteristik penting dalam proses
pembelajaran yang menggunakan CTL, yakni sebagai berikut:
a.
Dalam CTL, pembalajaran merupakan
proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge),
artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah
dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah
pengetahuan menyeluruh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
b.
Pembelajaran yang kontekstual adalah
belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring
knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran
dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memerhatikan detailnya.
c.
Pemahaman pengetahuan (understanding
knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi
untuk difahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang
lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut
baru pengetahuan itu dikembangkan.
d.
Mempraktikkan pengetahuan dan
pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya pengetahuan dan
pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa.
e.
Melakukan refleksi (reflecting
knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan
sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
2.3 Pendekatan CTL
Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang
menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari.
Pendekatan-pendekatan yang ada dalam pembelajaran kontekstual adalah sebagai
berikut.
a.
Belajar berbasis masalah (Problem-Based
Learning)
Suatu pendekatan pengajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar
tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk
memperoleh pegetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam hal
ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang
mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran.
Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan,
mensintesis, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain.
b.
Pembelajaran autentik (Authentic
Instruction)
Suatu pendekatan pengajaran yang
memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Siswa mengembangkan
keterampilan berpikir dan memecahkan masalah yang penting di dalam konteks
kehidupan nyata.
c.
Belajar berbasis inkuiri (Inquiry-Based
Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang
mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran
bermakna.
d.
Belajar berbasis proyek atau tugas (Project-Based
Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran
komprehensif di mana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat
melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi
dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.
Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk
pembelajarannya, dan mewujudkannya dengan produk nyata.
e. Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang
memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi
pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali
di tempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai
aktifitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa.
f. Belajar berbasis jasa-layanan (Service Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang
mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah
untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara
pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan
ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan
dan berbagi keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat melalui
proyek atau tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.
g. Belajar kooperatif (Cooperatif Learning)
Pendekatan
pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam
memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan.
2.4 Komponen-komponen CTL
CTL sebagai suatu strategi pembelajaran memiliki tujuh komponen.
Komponen-komponen ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan
menggunakan strategi kontekstual. Selanjutnya ketujuh komponen ini dijelaskan
di bawah ini:
a.
Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme
merupakan proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur
kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu
memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksikan oleh dan dari dalam diri
seseorang. Oleh sebab itu, pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu
objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasikan
objek tersebut.
Asumsi ini yang
melandasi CTL. Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa bisa
mengkronstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Sebab,
pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Dalam
pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan
seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas
guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
i)
Menjadikan pengetahuan bermakna dan
relevan bagi siswa.
ii)
Memberi kesempatan siswa menemukan
dan menerapkan idenya sendiri.
iii)
Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi
mereka sendiri dalam belajar.
b. Menemukan (Inquiry)
Komponen kedua
dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan
pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil
dari proses menemukan sendiri. Secara umum proses inquiry dapat
dilakukan melalui beberapa langkah, yakni:
i)
Pengamatan (observation).
ii)
Bertanya (questioning)
iii)
Mengajukan dugaan (hipotesis)
iv)
Pengumpulan data (data gathering)
v)
Menyimpulkan (conclusion).
Penerapan komponen ini dalam proses
pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas
untuk dipecahkan. Dengan demikian, siswa harus didorong untuk menemukan
masalah. Jika masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas,
selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai
dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa
untuk melakukan observasi dalam rangka mengumpulkan data. Manakala data telah
terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk menguji hipotesis sebagai dasar
dalam merumuskan kesimpulan. Komponen menemukan seperti yang digambarkan di atas, merupakan komponen
yang penting dalam pembelajaran CTL. Melalui proses berpikir yang sistematis,
diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis yang kesemuanya itu
diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas.
c. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah
bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi
dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan
kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif,
kegiatan bertanya berguna untuk:
i)
Menggali informasi baik administrasi
maupun akademik.
ii)
Mengecek pemahaman siswa.
iii)
Membangkitkan respon pada siswa.
iv)
Mengetahui sejauh mana keingintahuan
siswa.
v)
Mengetahui hal-hal yang sudah
diketahui siswa.
vi)
Memfokuskan perhatian siswa pada
sesuatu yang dikehendaki guru.
vii)
Untuk membangkitkan lebih banyak lagi
pertanyaan dari siswa.
viii)
Untuk menyegarkan kembali pengetahuan
siswa.
Pada semua aktivitas belajar, questioning
dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dan siswa, antara siswa
dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya.
d. Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep learning community dalam
CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang
lain. Hasil belajar dapat diperoleh dari sharing dengan orang lain,
antar teman, antar kelompok, yang sudah tahu memberi tahu pada yang belum tahu,
yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Inilah
hakikat dari masyarakat belajar, masyarakat yang saling membagi.
Dalam kelas CTL, penerapan komponen masyarakat
belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok
belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen, baik
dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan
minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan yang cepat
belajar didorong untuk yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu
didorong untuk menularkannya pada yang lain.
e. Pemodelan (modeling)
Komponen modeling adalah
proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat
ditiru oleh setiap siswa. Misalnya, bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat
asing, guru olah raga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, dan lain
sebagainya.
f. Refleksi (reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan
pengalaman yang telah dipelajari dilakukan dengan cara mengurutkan kembali
kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui
proses refleksi, pengalaman belajar akan dimasukkan dalam struktur kognitif
siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.
Dalam proses pembelajaran dengan
menggunakan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru menyisakan waktu
sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya berupa: guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang
dipelajarinya, kemudian guru memberikan pertanyaan langsung tentang apa-apa
yang diperolehnya hari itu, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari
itu.
g. Penilaian Sebenarnya (authentic assessment)
Dalam CTL, keberhasilan pembelajaran
tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan
tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak
hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti tes, akan tetapi juga proses
belajar melalui penilaian nyata.
Penilaian nyata atau sebenarnya (aunthentic
assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi
tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan
untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman
belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik
intelektual maupun mental siswa. Adapun
karakteristik penilaian sebenarnya sebagai berikut:
i)
Dilaksanakan selama dan sesudah proses
pembelajaran berlangsung.
ii)
Bisa digunakan untuk formatif maupun
sumatif.
iii)
Yang diukur keterampilan dan performasi, bukan
hanya mengingat fakta.
iv)
Berkesinambungan.
v)
Terintegrasi.
vi)
Dapat dipergunakan sebagai feed back.
Dengan demikian pembelajaran yang
benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu
mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada
diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran.
2.5
Langkah-langkah CTL
Penerapan
pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah
yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
1. Kembangkan
pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,
dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2. Laksanakan
sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan
sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan
masyarakat belajar.
5. Hadirkan
model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi
di akhir pertemuan.
7. Lakukan
penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara.
Sedangkan menurut Sanjaya (2010:
270), langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan CTL secara terperinci yakni
sebagai berikut:
a.
Pendahuluan
1)
Guru menjelaskan kompetensi yang
harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi
pelajaran yang akan dipelajari.
2)
Guru menjelaskan prosedur
pembelajaran CTL:
i)
Siswa dibagi ke dalam beberapa
kelompok sesuai dengan jumlah siswa.
ii)
Tiap kelompok ditugaskan untuk
melakukan observasi, misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke pasar
tradisional, dan kelompok 3 dan 4 melakukan observasi ke pasar swalayan.
iii) Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang
ditemukan di pasar-pasar tersebut.
3)
Guru melakukan tanya jawab sekitar
tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.
b.
Inti
Di lapangan
1)
Siswa melakukan observasi ke pasar
sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
2)
Siswa mencatat hal-hal yang mereka
temukan di pasar sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan
sebelumnya.
Di dalam kelas
1)
Siswa mendiskusikan hasil temuan
mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
2)
Siswa melaporkan hasil diskusi.
3)
Setiap kelompok menjawab
setiap pertanyaan yang akan diajukan oleh kelompok yang lain.
Penutup
1) Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah
pasar sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.
2) Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar
mereka dengan tema “pasar”.
2.6 Kelebihan dan Kekurangan CTL
a. Kelebihan dalam pembelajaran CTL, diantaranya:
i)
Pembelajaran lebih bermakna, artinya
siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada
sehingga siswa dapat memahaminya sendiri.
ii) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada
siswa karena pembelajaran CTL menuntut siswa menemukan sendiri bukan
menghafalkan.
iii) Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang yang
dipelajari.
iv) Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan bertanya
kepada guru.
v) Menumbuhkan kemampuan dalam kerjasama dengan teman yang lain untuk
memecahkan masalah yang ada.
vi) Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.
b. Kelemahan dalam pembelajaran CTL, antara lain:
i)
Bagi siswa yang tidak dapat
mengikuti pelajaran, tidak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang sama
dengan teman lainnya, karena siswa tidak mengalami sendiri.
ii)
Perasaan khawatir pada anggota
kelompok akan hilangnya karakteristik kelompok siswa, karena harus menyesuaikan
dengan kelompoknya.
iii) Banyak siswa yang tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang
lainnya, karena siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain
dalam kelompoknya.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat
disimpulkan bahwa:
a.
Kontekstual adalah suatu
pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh
untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi
kehidupan nyata.
b.
Diantara karakteristik CTL adalah kerjasama, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan
teman, siswa kritis guru kreatif.
c.
Adapun pendekatan-pendekatan dalam
CTL antara lain: belajar berbasis masalah,
pembelajaran autentik, belajar berbasis inkuiri, belajar berbasis proyek atau
tugas, belajar berbasis kerja, belajar berbasis jasa-layanan, dan belajar kooperatif.
d.
Komponen-komponen yang ada dalam
CTL antara lain: konstruktivisme, menemukan,
bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
e.
Kelebihan CTL adalah pembelajaran
lebih bermakna, pembelajaran lebih produktif, dan menumbuhkan keberanian siswa.
Sedangkan kekurangan CTL adalah perasaan khawatir pada anggota kelompok akan
hilangnya karakteristik kelompok siswa dan banyak siswa yang tidak senang
apabila disuruh bekerja sama dengan yang lainnya.
3.2 Saran
Dengan
pemahaman tentang Contextual Teaching and Learning (CTL) ini diharapkan
semua guru mata pelajaran dapat menerapkan strategi ini dalam melaksanakan
proses belajar mengajar (PBM) di sekolah dan dapat lebih meningkatkan kualitas
maupun kuantitas penguasaan materi mata pelajaran siswa di sekolah dan pada akhirnya
mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
DAFTAR
RUJUKAN
Riyanto,
Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Hanafiah & Suhana C. 2009. Konsep
Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.
Rusman. 2010. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan
Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajagrafindo.
Sanjaya Wina. 2010. Strategi
pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.