Selasa, 19 Mei 2015

Makalah Perkembangan kognitif Peserta didik

MAKALAH PERKEMBANGAN KOGNITIF
MATA KULIAH
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Dosen Pembimbing :
Dr. Rofi’atul Hosna, M.pd
ikaha color
 






Oleh :
Luluk Sayyidatul Afiyah

FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT KEISLAMAN HASYIM ASY’ARI
TEBUIRENG – JOMBANG
2012 – 2013

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif  adalah salah satu perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan  lingkungannya.
Dalam arti luas Dapat dipahami juga bahwa kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh para ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi,pikiran,ingatan,dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang  memperoleh pengetahuan,memecahkan masalah,dan merencanakan masa depan,atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari,memerhatikan,mengamati,mambayangkan,memperkirakan ,menilai,dan memikirkan lingkungan .
Menurut Teori Piaget perkembangan kognitif adalah:
1.      Anak adalah pembelajar yang aktif
dalam memahami dunia secara aktif,anak-anak menggunakan skema(kerangka kognitif atau kerangka referensi). Skema adalah konsep atau kerangka yang ada dalam pikiran anakyang digunakan untuk mengorganisasikan dan menginterprestasikan
informasi. Ada dua proses yang bertanggung jawab atas cara anak menggunakan dan mengadaptasikan skema : asimilasi dan akomodasi
a.       Proses asimilasi   terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada.yakni,anak mengasimilasikan lingkungan kedalam suatu skema.
b.      Proses akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru . yakni anak menyesuaikan skema mereka dengan lingkungannya.
Misal :
Gadis berumur delapan tahun yang diberipalu dan paku untuk menggantung sebuah gambar didinding . dia belum pernah menggunakan palu ,tetapi dengan mengamati orang lain menggunakan palu. Setelah mengetahui hal tersebut dia akan memasukan pengetahuan tersebut kedalam  skema yang sudah dimilikinya(asimilasi).  Tetapi karna palu tersebut berat dia,sehingga dia memegangnya dibagian atas. Dia mukul terlalu keras  sehingga pakunya bengkok,untuk itu dia hrus menyesuaikan tekanan pukulanya,penyesuaian ini mencerminkan kemampuannya untuk mengubah sedikit pemahamannya tentang dunia (akomodasi)

2.      Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalaman.
Konsep yang berarti  usaha mengelompokan perilaku yang terpisah ke dalam urutan yang lebih teratur,kedalam fungsi kognitif. Anak-anak yang hanya punya gagasan samar tentang cara menggunakan sesuatu mungkin juga punya gagasan kabur tentang
cara menggunakan alat lainya.

3.      Ekuilibrasi (equilibration) adalah mekanisme yang dikemukakan oleh Piaget untuk menjelaskan bagaimana anak bergerak dari satu tahap pemikiran ketahap pemikiran selanjutnya. Yakni keadaan seimbang antara struktur kognisinya dan pengalamanya dalam lingkungan.











B. Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Tahap perkembangan kognitif menurut piaget ada 4:
Tahap Sensori-motorik
Usia 0-2 tahun

Bayi bergerak dari tindakanreflek instinktif pada saat lahir sampai permulaan pimikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui pengordinasi pengalaman sensor dengan tindakan fisik.
Tahap pra-operasional
Usia 2-7 tahun

Anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Kata dan gambar ini merefleksikan peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi indrawi dan tindakan fisik.
Tahap operasional konkret
Usia 7-11 tahun

Pada saat ini akan dapat berpikir secara logis mengenal peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan benda kedalam bentuk yang berbeda.
Tahap operasional formal
Usia 11 hingga dewasa

Remaja mulai berpikir secara lebih abstrak,idealistis,dan logis


1.      Tahap sensori-motor
Dalam tahap ini,bayi menyusun  pemahaman dunia dengan mengoordinasi kan pengalaman indra (sensory)mereka (seperti melihat dan mendengar) dengan gerakan motorik (otot) mereka (manggapai,menyentuh) dan karenanya diistilahkan
sensorimotor.


2.      Taham pra-operasional
Dibagi menjadi 2 subtahap:
a.      Fungsi simbolis
Tahap ini terjadi sekitar 2-4 tahun,anak kecil secara mental mulai bisa mempresentasikan obyek yang tak hadir. Hal ini mulai memperluas dunia mental anak hingga mencakup dimensi-dimensi baru.misalnya Penggunaan bahasa dan kemunculan sikap bermain .
b.      Pemikira intuitif
Tahap ini terjadi sekitar 4-7 tahun,seorang anak  merasa yakin terhadap pengetahuan dan pemahaman mereka,tetapi tidak menyadari  bagaimana mereka bisa mengetahui apa-apa  yang  ingin mereka ketahui.

3.      Tahap operasional konkret
Operasi konkret adalah tindakan mental yang bisa dibalikan yang berkaitan dengan obyek konkret nyata. Operasi konkret membuat anak bisa mengoordinasikan beberapa karakteristik,jadi bukan hanya  fokus pada satu kualitas dari obyek. Kemampuan tahap operasi konkret penting adalah pengklasifikasian atau membagi sesuatu menjadi sub yang berbeda-beda dan memahami hubunganya.
Ada 2 macam  yakni:

a.       Seriation : yaitu operasi konkret yang melibatkan stimuli pengurutan berdasarkan dimensi kuantitatif.
b.      Transitivity: yaitu operasi konkret kemampuan untuk mengombinasikan hubungan-hubungan secara logis guna memahami kesimpulan tertentu.


4.      Tahap operasional formal
Tahap ini ,individu sudah mulai memikirkan pengalaman diluar pengalaman konkret,dan memikirkannya secara lebih abstrak,idealis,dan logis. Kualitas abstrak dari pemikiran operasional tampak jelas dalam pemecahan problem. Selain memiliki kemampuan abstraksi,pemikir operasional formal juga punya kemampuan untuk melakukan idealisme dan membayangkan kemungkinan-kemungkinanan.
 Pada tahap ini,remaja mulai melakukan pemikiran spekulasi  tentang kualitas ideal  yang mereka inginkan dalam diri mereka dan diri orang lain. Pemikiran idealis ini bisa menjadi fantasi atau khayalan . banyak remaja tak sabar terhadap cita-cita mereka sendiri. Mereka juga tidak sabar menghadapi problem untuk mewujudkan cita-citanya itu.

C. Karakteristik Perkembangan Kognitif  Peserta Didik Usia sekolah Dasar
Mengacu pada pemikiran kognitif  Piaget,pemikiran anak-anak usia sekolah dasar masuk dalam tahap pemikiran konkret-operasional,yaitu masa dimana aktifitas mental mental anak terfokus pada obyek-obyek yang nyata atau pengalamanya.
Ini berarti anak usia SD ini sudah memiliki kemampuan untuk berfikir melalui urutan sebab akibat dan mulai mengenali banyaknya cara yang bisa ditempuh dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Anak usia ini juga dapat mempertimbangkan secara logis hasil dari sebuah kondisi atau situasi serta tahu beberapa aturan atau strategi berpikir ,seperti penjumlahan,pengurangan,penggandaan,mengurutkan sesuatu secara berseri dan mampu memahami operasi dalam  sjumlah konsep,seperti 5x6  = 30;30 : 6 = 5 (Johnson & Medinnus,1974)
Dalam upaya memahami alam sekitarnya,mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indra,karena ia mulai memiliki kemampuan untuk membedakan yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya,dan antara yang bersifat sementara dengan yang bersifat menetap.


Makalah Contextual Learning

MAKALAH
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Diajukan Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Strategi Pembelajaran

Dosen Pembimbing :
Ika Dian Rahmawati, M. Pd

UNHASY
 









Oleh : Kelompok 3

1.      Binti Muthoharotuz Zahro’ (1260221)        
2.      Binti Chusnul Khotimah     (1260224)



UNIVERSITAS HASYIM ASY’ARI
FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
TEBUIRENG - JOMBANG
Oktober 2013


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Anak belajar lebih baik melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan yang alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajarinya. Pembelajaran yang beroreantasi target penguasan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di sekolah-sekolah.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan strategi belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu,  proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam makalah ini, akan dibahas lebih rinci tentang pembelajaran kontekstual (CTL).   

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut:
a.       Apa pengertian kontekstual?
b.      Apa saja karakteristik CTL?
c.       Apa saja komponen CTL?
d.      Apa saja pendekatan-pendekatan dalam CTL?
e.       Apa kelebihan dan kekurangan CTL?



1.3  Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan makalah ini sebagai berikut:
a.       Untuk mengetahui pengertian CTL.
b.      Untuk mengetahui karakteristik CTL.
c.       Untuk mengetahui komponen CTL.
d.      Untuk mengetahui pendekatan-pendekatan dalam CTL.
e.      Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan CTL.




















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian CTL
Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti “hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks)”. Menurut Elaine B. Johnson (Rusman, 2010: 187) pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut, Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari  kehidupan sehari-hari siswa.
            Menurut Nurhadi (Rusman, 2010: 189), pembelajaran kontekstual (CTL) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
            Sedangkan Johnson mengatakan bahwa CTL memungkinkan siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna. CTL memperluas konteks pribadi siswa lebih lanjut melalui pemberian pengalaman segar yang akan merangsang otak guna menjalin hubungan baru untuk menemukan makna yang baru.
            Sementara itu, Howey R, Keneth (Rusman, 2010: 190) mendefinisikan CTL sebagai pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar di mana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam berbagai konteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulatif ataupun nyata, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
            Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari  dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

2.2 Karakteristik CTL
Proses pembelajaran dengan menggunakan Contextual Teaching and Learning harus mempertimbangkan karakteristik-kakteristik berikut ini:
a.       Kerjasama.
b.      Saling menunjang.
c.       Menyenangkan dan tidak membosankan.
d.      Belajar dengan bergairah.
e.       Pembelajaran terintegrasi.
f.       Menggunakan berbagai sumber.
g.      Siswa aktif.
h.      Sharing dengan teman.
i.        Siswa kritis guru kreatif.
j.        Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, dan lain-lain.
k.      Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan lain-lain. (Depdiknas dalam Rusman 2010: 198).
            Sedangkan menurut Sanjaya (2010: 256) mengemukakan bahwa terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan CTL, yakni sebagai berikut:
a.    Dalam CTL, pembalajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan menyeluruh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
b.    Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memerhatikan detailnya.
c.    Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk difahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
d.   Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa.
e.    Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

2.3 Pendekatan CTL
Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari. Pendekatan-pendekatan yang ada dalam pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut.
a.       Belajar berbasis masalah (Problem-Based Learning)
Suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pegetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesis, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain.
b.      Pembelajaran autentik (Authentic Instruction)
Suatu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan memecahkan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata.
c.       Belajar berbasis inkuiri (Inquiry-Based Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
d.      Belajar berbasis proyek atau tugas (Project-Based Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk pembelajarannya, dan mewujudkannya dengan produk nyata.
e.       Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di tempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktifitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa.
f.       Belajar berbasis jasa-layanan (Service Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagi keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat melalui proyek atau tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.
g.      Belajar kooperatif (Cooperatif Learning)
     Pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan.


2.4 Komponen-komponen CTL
CTL sebagai suatu strategi pembelajaran memiliki tujuh komponen. Komponen-komponen ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan strategi kontekstual. Selanjutnya ketujuh komponen ini dijelaskan di bawah ini:
a.       Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme merupakan proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksikan oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu, pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasikan objek tersebut.
Asumsi ini yang melandasi CTL. Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa bisa mengkronstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Sebab, pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
i)     Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
ii)   Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
iii)  Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
b. Menemukan (Inquiry)
Komponen kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Secara umum proses inquiry dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yakni:
i)          Pengamatan (observation).
ii)        Bertanya (questioning)
iii)      Mengajukan dugaan (hipotesis)
iv)      Pengumpulan data (data gathering)
v)        Menyimpulkan (conclusion).
Penerapan komponen ini dalam proses pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas untuk dipecahkan. Dengan demikian, siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Jika masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa untuk melakukan observasi dalam rangka mengumpulkan data. Manakala data telah terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk menguji hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan. Komponen menemukan seperti  yang digambarkan di atas, merupakan komponen yang penting dalam pembelajaran CTL. Melalui proses berpikir yang sistematis, diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis yang kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas.
c. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:
i)          Menggali informasi baik administrasi maupun akademik.
ii)        Mengecek pemahaman siswa.
iii)      Membangkitkan respon pada siswa.
iv)      Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
v)        Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
vi)      Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.
vii)    Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
viii)  Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dan siswa, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya.
d. Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep learning community dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar dapat diperoleh dari sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok, yang sudah tahu memberi tahu pada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Inilah hakikat dari masyarakat belajar, masyarakat yang saling membagi.
 Dalam kelas CTL, penerapan komponen masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan yang cepat belajar didorong untuk yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain.
e. Pemodelan (modeling)
Komponen modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya, bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olah raga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, dan lain sebagainya.
f. Refleksi (reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya berupa: guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang dipelajarinya, kemudian guru memberikan pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu.
g. Penilaian Sebenarnya (authentic assessment)
Dalam CTL, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti tes, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata.
Penilaian nyata atau sebenarnya (aunthentic assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.  Adapun karakteristik penilaian sebenarnya sebagai berikut:
i)     Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
ii)   Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif.
iii)  Yang diukur keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat fakta.
iv)  Berkesinambungan.
v)   Terintegrasi.
vi)  Dapat dipergunakan sebagai feed back.
Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran.

2.5  Langkah-langkah CTL
Penerapan pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara.
            Sedangkan menurut Sanjaya (2010: 270), langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan CTL secara terperinci yakni sebagai berikut:
a.      Pendahuluan
1)      Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
2)      Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:
i)    Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa.
ii)  Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke pasar tradisional, dan kelompok 3 dan 4 melakukan observasi ke pasar swalayan.
iii)    Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan di pasar-pasar tersebut.
3)      Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.
b.      Inti
Di lapangan 
1)      Siswa melakukan observasi ke pasar sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
2)      Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di pasar sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.
Di dalam kelas
1)      Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
2)      Siswa melaporkan hasil diskusi.
3)      Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang akan diajukan oleh kelompok yang lain.
Penutup
1)      Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah pasar sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.
2)      Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka dengan tema “pasar”. 

2.6 Kelebihan dan Kekurangan CTL
a. Kelebihan dalam pembelajaran CTL, diantaranya:
i)        Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri.
ii)      Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menuntut siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan.
iii)    Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang yang dipelajari.
iv)    Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan bertanya kepada guru.
v)      Menumbuhkan kemampuan dalam kerjasama dengan teman yang lain untuk memecahkan masalah yang ada.
vi)    Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.
b.      Kelemahan dalam pembelajaran CTL, antara lain:
i)        Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran, tidak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang sama dengan teman lainnya, karena siswa tidak mengalami sendiri.
ii)        Perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik kelompok siswa, karena harus menyesuaikan dengan kelompoknya.
iii)      Banyak siswa yang tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lainnya, karena siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam kelompoknya.
           













BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
a.       Kontekstual adalah suatu pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata.
b.      Diantara karakteristik CTL adalah kerjasama, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis guru kreatif.
c.       Adapun pendekatan-pendekatan dalam CTL antara lain: belajar berbasis masalah, pembelajaran autentik, belajar berbasis inkuiri, belajar berbasis proyek atau tugas, belajar berbasis kerja, belajar berbasis jasa-layanan,  dan belajar kooperatif.
d.      Komponen-komponen yang ada dalam CTL antara lain: konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
e.       Kelebihan CTL adalah pembelajaran lebih bermakna, pembelajaran lebih produktif, dan menumbuhkan keberanian siswa. Sedangkan kekurangan CTL adalah perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik kelompok siswa dan banyak siswa yang tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lainnya.

3.2 Saran
   Dengan pemahaman tentang Contextual Teaching and Learning (CTL) ini diharapkan semua guru mata pelajaran dapat menerapkan strategi ini dalam melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) di sekolah dan dapat lebih meningkatkan kualitas maupun kuantitas penguasaan materi mata pelajaran siswa di sekolah dan pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
DAFTAR RUJUKAN

Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Hanafiah & Suhana C. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.

Rusman. 2010.  Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajagrafindo.

Sanjaya Wina. 2010. Strategi pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

            , 2012. (www.sekolahdatar.net/2012/05/kelebihan-dan-kelemahan-pembelajaran.html.) Diakses pada tanggal 26 Oktober 2013.